Jumat, 23 Agustus 2013

Bukan-Kucing-Tante



Tasya (tetangga sebelah, kelas 6 SD) sering menyebut dua kucing putih belang coklat itu “kucing tante”. Dua kucing itu berwarna senada. Satu induk, satu anak. Mungkin bapaknya juga putih belang coklat, sehingga anaknya juga berwarna serupa. Kucing itu memang sering saya beri makan, dan selalu tampak di seputar rumah tinggal kami.  Tapi saya tidak sepakat dengan sebutan Tasya. 

Saya bilang sama Tasya, itu bukan “kucing tante”, melainkan kucing-yang-tante-izinkan-hidup-di-seputar-rumah-tante.

“Tapi Tante kasih makan kucing itu,” Tasya berargumen.

“Iya, itu karena Tante baik hati saja sih,” jawab saya bikin Tasya nyengir. Dia siiiih  udah terbiasa dengan ngeles-ala-saya :D.

Sebenarnya, masuk akal kalau Tasya menganggap itu “kucing Tante”. Tak hanya karena si kucing itu tinggal di seputar rumah dan juga nyaris rutin saya beri makan.  Tapi karena “sejarah” si kucing yang tak lepas dari belas-kasih-sayang sayah. Oiii, belas-kasih-sayang atau sekedar nggak tegaan ya? Sepertinya lebih condong yang kedua hehehe.


Berawal dari tahun lalu, sudah lamaaa, saya lupa kapan tepatnya (akhirnya ketemu tanggalnya setelah search fotonya di facebook : 30 Juli 2012!). Seekor kucing yang tampak mengenaskan muncul di dekat rumah. Kepalanya terluka tepat di antara dua telinga hingga menjalar ke mata. Mungkin seseorang telah memukulnya dengan keras. Atau menyiramnya dengan air panas. Luka itu belum kering sehingga tampak mengerikan. Bahkan Ale pun bisa bilang “tian” (kasihan) melihat kondisi si kucing. Anak kecil itu memaksa saya mengobati si kucing. Saya ingat, waktu itu, saya pakai botol clandistin Ale yang sudah kosong untuk pura-pura mengobati di kucing. Jelas itu bukan obat yang tepat. Tapi, beberapa hari kemudian, luka si kucing mengering. Tapi satu matanya mengatup, tak lagi bisa terbuka. Dia menjadi kucing buta.

Kucing itu kadang tampak kadang tidak. Yang pasti, beberapa bulan kemudian, si kucing tampak gendut. Semua emak-emak yang melihatnya bilang, “hamil tuuh”.  Ohooo..mungkin di dunia perkucingan, kecantikan bukan kriteria penting untuk memilih pasangan. Ada juga kucing jantan yang sudi menghamilinya.

Lalu si kucing melahirkan. Dia memilih tempat di semak bunga depan rumah. Anaknya ada tiga ekor. Belum sempat si kucing memindahkan anak-anaknya, hujan turun sangat deras. Rumpun semak tak mampu melindunginya. Dalam hujan, si kucing memindahkan anak-anaknya. Saya nggak lihat prosesnya, tau-tau ada tiga anak kucing yang masih sangat lemah berada di kolong mobil yang belum dimasukkan garasi.  Ihhh, kasihan betul. Sore itu, saya berinisiatif mengumpulkan bayi-bayi kucing itu di kain lap depan pintu. Lepas magrib, trio bayi kucing sudah raib. Beberapa hari kemudian, si kucing tampak sendiri. Tak terdengar ada ngeong anak-anak kucing. Mungkin ketiga-tiganya mati kena hypothermia :D.

Tak lama, si kucing tampak hamil lagi. Weittssss….ini bener-bener kucing hybrid. Muka bopeng bukan soal untuk menggaet (atau digaet) pasangan hehehe. Kali ini, si kucing melahirkan di gudang belakang, dekat kamar mandi. Kembali ada tiga ekor kucing dengan belang serupa, putih-coklat. Aiiih, walau kucing, kalau masih bayi, tetap saja tampak menggemaskan (lha wong bayi tikus saja membuat saya iba). 




Saya membiarkanya di gudang belakang hingga mereka bisa berjalan. Begitu otot-otot kakinya kuat, saya menaruh kardus di sudut halaman belakang dan menaunginya dengan payung. Itulah rumah mereka. Di luar, bukan di dalam. Tiga kucing itu berkembang dengan baik. Tapi satu ekor diminta seorang kawan (saya sih nggak merasa memiliki, jadi ketika teman ini minta, ya saya langsung “silakan aja”). Satu lagi mati terlindas saat mobil keluar garasi. Tinggallah si induk dengan seekor anak saja.

Kini si anak sudah makin besar, sepertinya juga sudah dilepas oleh induknya (yang mungkin akan kawin lagi :D). Si kucing bahkan sering tidur di gudang belakang, lalu tiap saya bangun, dia segera siaga di pintu dapur, menanti diberi makan. Jika saya tak segera memberinya makan, dia akan berguling-guling, dan mengeong dengan nada mendamba.

Aiiiih,…walaupun saya  ingin memeluknya, tapi saya melarang diri saya untuk menyukai kucing itu. Pun Ale, walau tertarik, tapi tak saya izinkan memeluk-meluk si kucing dengan alasan kesehatan. Saya juga tak ingin menganggapnya sebagai “kucing kami”. Karena merasa memiliki mengandung konsekuensi “wajib memelihara” demi perikehewanan. Wajib ini yang bikin tidak nyaman kalau kami pergi berhari-hari, entah itu untuk mudik, urusan kerja, atau sekedar liburan.

Dulu, ketidaknyamanan itulah yang kami rasakan ketika kami memelihara anjing. Pergi lalu mengabaikan makannya, rasanya kok tidak bertanggung-jawab. Jadilah, dulu, kalau pergi lebih dari sehari, kami mesti nitip si anjing pada uwak sebelah (ortu Tasya).

Memiliki hewan peliharaan memang membutuhkan komitmen dan kesabaran. Harus ada kesediaan memberi makan, membersihkan lingkungan, juga menghadapi ekses-ekses yang mungkin ditimbulkan. Pengalaman empat kali memelihara anjing, selalu ada saja masalahnya. Anjing pertama lepas ketika baru tiga hari dibawa ke rumah. Anjing  kedua mati karena sakit. Anjing ketiga, gemar sekali membawa aneka sampah ke halaman rumah. Anjing keempat, jinak tapi kemudian kami harus mudik ketika dia sampai usia kawin dan beranak. Kami memutuskan menjual anjing itu.

Dan sejauh ini, saya belum siap untuk memiliki hewan lagi. Tapi saya masih bisa untuk “sekedar” mengizinkan mereka tinggal di luar dan memberinya makan.

----------------------------------------------------------------------------------------------
Pengin Bikin Akun Jejaring Sosialmu Menghasilkan Uang?
Join Oriflame via dBC Network yuuuk.
Klik ini: 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar