Senin, 16 September 2013

Air yang 24 Jam






Beberapa hari lalu (12/9/2013), saya kaget lihat tagihan air  yang melonjak tinggi  dari biasanya. Itung punya itung, ternyata tarif air memang naik lebih dari dua kali lipat per meternya. Nah, seperti biasa, kami para emak-emak langsung cerewet dengan kenaikan tariff ini.

Yaaa.. saya coba mikir positif aja. Mudah-mudahan rezeki makin lancar, sehingga harga-harga makin naik nggak akan bikin kepala terbakar :D. Bukan rezeki saya aja, tapi rezeki kita semua. Amiin :)

Tapi pikir-dipikir, dengan tingkat tarif yang sudah naik ini pun, masih lebih murah dan lebih berkualitas dibandingkan saat kami tinggal di Kabanjahe, Tanah Karo. Kalau ngomongin air, rasanya saya memang nggak akan pernah lupa sama tanah kelahiran Ale itu (FYI, penggalan nama anak saya : Ladika, artinya Lahir Di Karo). Sebab, untuk pertama kalinya saya tinggal di daerah dengan air yang terbatas. 

Senin, 26 Agustus 2013

Sambal Kacang, Saus Kacang



(Dulu) membuat sambal kacang adalah perkara yang tidak simpel buat saya. Setidaknya itu yang saya lihat dari cara emak  membuat sambal kacang. Menggoreng kacang dan menyiapkan  bumbunya sih simpel. Tapi proses selanjutnya itu lhooo..

Berhubung kami tidak punya apapun itu penggiling dan penghalus mekanik, maka menghaluskan kacang dan mencampurnya dengan gula merah dilakukan menggunakan lumpang dan alu. Bukan lumpang batu, tapi lumpang kayu. Berhubung membuat sambal kacang bukalah pekerjaan rutin, maka emak menggunakan lumpang dan alu yang sering digunakan untuk membuat kopi bubuk  (Dulu, membuat kopi bubuk juga dilakukan dengan cara sangat manual. Sekarang, meski sudah ada mesin, cara manual ini tidak sepenuhnya punah. Kata emak, kopi bubuk yang ditumbuk lebih mantap daripada yang dimesin). 

Jumat, 23 Agustus 2013

Bukan-Kucing-Tante



Tasya (tetangga sebelah, kelas 6 SD) sering menyebut dua kucing putih belang coklat itu “kucing tante”. Dua kucing itu berwarna senada. Satu induk, satu anak. Mungkin bapaknya juga putih belang coklat, sehingga anaknya juga berwarna serupa. Kucing itu memang sering saya beri makan, dan selalu tampak di seputar rumah tinggal kami.  Tapi saya tidak sepakat dengan sebutan Tasya. 

Saya bilang sama Tasya, itu bukan “kucing tante”, melainkan kucing-yang-tante-izinkan-hidup-di-seputar-rumah-tante.

“Tapi Tante kasih makan kucing itu,” Tasya berargumen.

“Iya, itu karena Tante baik hati saja sih,” jawab saya bikin Tasya nyengir. Dia siiiih  udah terbiasa dengan ngeles-ala-saya :D.

Sebenarnya, masuk akal kalau Tasya menganggap itu “kucing Tante”. Tak hanya karena si kucing itu tinggal di seputar rumah dan juga nyaris rutin saya beri makan.  Tapi karena “sejarah” si kucing yang tak lepas dari belas-kasih-sayang sayah. Oiii, belas-kasih-sayang atau sekedar nggak tegaan ya? Sepertinya lebih condong yang kedua hehehe.


Berawal dari tahun lalu, sudah lamaaa, saya lupa kapan tepatnya (akhirnya ketemu tanggalnya setelah search fotonya di facebook : 30 Juli 2012!). Seekor kucing yang tampak mengenaskan muncul di dekat rumah. Kepalanya terluka tepat di antara dua telinga hingga menjalar ke mata. Mungkin seseorang telah memukulnya dengan keras. Atau menyiramnya dengan air panas. Luka itu belum kering sehingga tampak mengerikan. Bahkan Ale pun bisa bilang “tian” (kasihan) melihat kondisi si kucing. Anak kecil itu memaksa saya mengobati si kucing. Saya ingat, waktu itu, saya pakai botol clandistin Ale yang sudah kosong untuk pura-pura mengobati di kucing. Jelas itu bukan obat yang tepat. Tapi, beberapa hari kemudian, luka si kucing mengering. Tapi satu matanya mengatup, tak lagi bisa terbuka. Dia menjadi kucing buta.

Kucing itu kadang tampak kadang tidak. Yang pasti, beberapa bulan kemudian, si kucing tampak gendut. Semua emak-emak yang melihatnya bilang, “hamil tuuh”.  Ohooo..mungkin di dunia perkucingan, kecantikan bukan kriteria penting untuk memilih pasangan. Ada juga kucing jantan yang sudi menghamilinya.

Lalu si kucing melahirkan. Dia memilih tempat di semak bunga depan rumah. Anaknya ada tiga ekor. Belum sempat si kucing memindahkan anak-anaknya, hujan turun sangat deras. Rumpun semak tak mampu melindunginya. Dalam hujan, si kucing memindahkan anak-anaknya. Saya nggak lihat prosesnya, tau-tau ada tiga anak kucing yang masih sangat lemah berada di kolong mobil yang belum dimasukkan garasi.  Ihhh, kasihan betul. Sore itu, saya berinisiatif mengumpulkan bayi-bayi kucing itu di kain lap depan pintu. Lepas magrib, trio bayi kucing sudah raib. Beberapa hari kemudian, si kucing tampak sendiri. Tak terdengar ada ngeong anak-anak kucing. Mungkin ketiga-tiganya mati kena hypothermia :D.

Tak lama, si kucing tampak hamil lagi. Weittssss….ini bener-bener kucing hybrid. Muka bopeng bukan soal untuk menggaet (atau digaet) pasangan hehehe. Kali ini, si kucing melahirkan di gudang belakang, dekat kamar mandi. Kembali ada tiga ekor kucing dengan belang serupa, putih-coklat. Aiiih, walau kucing, kalau masih bayi, tetap saja tampak menggemaskan (lha wong bayi tikus saja membuat saya iba). 




Saya membiarkanya di gudang belakang hingga mereka bisa berjalan. Begitu otot-otot kakinya kuat, saya menaruh kardus di sudut halaman belakang dan menaunginya dengan payung. Itulah rumah mereka. Di luar, bukan di dalam. Tiga kucing itu berkembang dengan baik. Tapi satu ekor diminta seorang kawan (saya sih nggak merasa memiliki, jadi ketika teman ini minta, ya saya langsung “silakan aja”). Satu lagi mati terlindas saat mobil keluar garasi. Tinggallah si induk dengan seekor anak saja.

Kini si anak sudah makin besar, sepertinya juga sudah dilepas oleh induknya (yang mungkin akan kawin lagi :D). Si kucing bahkan sering tidur di gudang belakang, lalu tiap saya bangun, dia segera siaga di pintu dapur, menanti diberi makan. Jika saya tak segera memberinya makan, dia akan berguling-guling, dan mengeong dengan nada mendamba.

Aiiiih,…walaupun saya  ingin memeluknya, tapi saya melarang diri saya untuk menyukai kucing itu. Pun Ale, walau tertarik, tapi tak saya izinkan memeluk-meluk si kucing dengan alasan kesehatan. Saya juga tak ingin menganggapnya sebagai “kucing kami”. Karena merasa memiliki mengandung konsekuensi “wajib memelihara” demi perikehewanan. Wajib ini yang bikin tidak nyaman kalau kami pergi berhari-hari, entah itu untuk mudik, urusan kerja, atau sekedar liburan.

Dulu, ketidaknyamanan itulah yang kami rasakan ketika kami memelihara anjing. Pergi lalu mengabaikan makannya, rasanya kok tidak bertanggung-jawab. Jadilah, dulu, kalau pergi lebih dari sehari, kami mesti nitip si anjing pada uwak sebelah (ortu Tasya).

Memiliki hewan peliharaan memang membutuhkan komitmen dan kesabaran. Harus ada kesediaan memberi makan, membersihkan lingkungan, juga menghadapi ekses-ekses yang mungkin ditimbulkan. Pengalaman empat kali memelihara anjing, selalu ada saja masalahnya. Anjing pertama lepas ketika baru tiga hari dibawa ke rumah. Anjing  kedua mati karena sakit. Anjing ketiga, gemar sekali membawa aneka sampah ke halaman rumah. Anjing keempat, jinak tapi kemudian kami harus mudik ketika dia sampai usia kawin dan beranak. Kami memutuskan menjual anjing itu.

Dan sejauh ini, saya belum siap untuk memiliki hewan lagi. Tapi saya masih bisa untuk “sekedar” mengizinkan mereka tinggal di luar dan memberinya makan.

----------------------------------------------------------------------------------------------
Pengin Bikin Akun Jejaring Sosialmu Menghasilkan Uang?
Join Oriflame via dBC Network yuuuk.
Klik ini: 

Kamis, 22 Agustus 2013

Si Compo Pindah ke Dapur






Tanpa harus update info audio set terbaru pun, semua pasti sepakat kalau radio tape sudah tergolong “kuno”. Tentu saja tidak sekuno radio atau gramophone koleksi penghobi barang antik. Tapi bukankah handphone yang hanya bisa untuk telepon dan SMS juga sudah terasa kuno? :D

Di rumah, saya masih punya radio tape compo merk Polytron seri PSC-722 seperti gambar di atas. Jadi tahu seri-nya gara-gara cari gambarnya di google hehehe. Pas beli, malah enggak peduli, seri apa. Benda ini saya beli, kalau tidak salah, tahun 2007 sewaktu bertugas di Cirebon.  Nggak tau kenapa waktu itu memutuskan beli compo. Padahal pada tahun itu, pemutar musik digital juga sudah berkembang. Beberapa tahun sebelumnya, saya juga membeli compo Polytron, tapi edisi mini. Saat itu masih mahasiswa yang keuangannya selalu pas-pasan. Mini compo saya beli dari uang beasiswa :D.

Minggu, 16 Juni 2013

Akhirnya, Ketemu Juga dengan "Tantrum"







Pernah (atau malah sering) menghadapi anak yang sedang tantrumdi depan umum? Bagaimana kalau anak menangis dan mengamuk di mall, karena menginginkan sebuah barang yang selain harganya tak terjangkau juga tak ada kegunannya untuk dia. Bagaimana kalau anak mengamuk di pusat keramaian karena menginginkan sesuatu yang tak diperbolehkan untuk anak-anak seusianya? Bagaimana kalau anak tiba-tiba super rewel karena sebab yang kita enggak tahu?

Dulu saat hamil, saya pernah membeli buku, yang kalau tidak salah judulnya “Ketika Anak Anda Tantrum.” Tapi, isinya saya sudah lupa. Bukunya pun entah di mana sekarang :D. Ketika belum mengalami kejadian ini, saya hanya bisa membayangkan apa yang dirasakan ibu-ibu ketika sedang mengalaminya.

Ceritanya, saat kepulangan saya berdua Ale (3 tahun) ke Siantar, Sabtu (15/6/2013). Kami terbang dari Jogja pukul 7.30. Lalu transit di bandara Soekarno Hatta untuk penerbangan ke Medan yang jadwalnya pukul 12.40. Jeda waktu penerbangan yang cukup lama untuk sebuah “menunggu” bersama seorang batita yang sudah tidak sabar ketemu ayahnya. Kami mengisi waktu dengan bermain dan juga beberapa kali ke kamar kecil karena Ale suka cuci sekali dengan aktifitas cuci tangan :D.

Kamis, 09 Mei 2013

Menunggu Jawaban Doa





Tadi siang, tiba-tiba saja saya diingatkan lagi tentang jawaban doa. Pengingatan yang datang begitu saja saat saya sedang membersihkan sampah di halaman belakang. Mungkin karena di halaman belakang ada tanaman cabai, jadi pengingatan jawaban doa itu terkoneksi ke tanaman :).

Yakni bahwa doa kadang (atau sering?) tak langsung terjawab. Seperti hal-nya tanaman, doa juga perlu waktu untuk sampai berbuah (dijawab). Ada waktu dan proses yang harus dilalui. Selain itu, tanaman perlu dirawat dengan baik agar bisa menghasilkan banyak buah. Disiram, dipupuk, disiangi, diselamatkan dari hama.

Demikian juga doa, agar “berbuah baik” (dikabulkan) maka harus dirawat dengan baik juga. Saya memaknainya, doa harus rajin dinaikkan dan dengan sungguh-sungguh. Seringkali, doa tidak spesifik, juga tidak sungguh-sungguh. Seperti sekedar mengeluarkan kata-kata dari mulut, belum dari hati. Atau, belum sampai saatnya berbuah, sudah tak sabar. Lalu memilih berhenti mendoakan itu. Padahal, lama tidak terjawab belum tentu berarti tidak. Tapi memang belum dijawab. Kita bisa memohon kepekaan, agar kita bisa mengerti, sebuah doa memang ditunda atau ditolak.

Saya bersyukur diingatkan tentang hal ini. Sebab, saat ini saya kembali mendoakan satu hal, yang sudah lama tidak saya doakan lagi karena rasanya lama sekali belum terjawab. Ihiiir, masih begitu lah sayaaa… Padahal dalam Alkitab sendiri ada berbagai kisah, tentang ketekunan berdoa. Ketekunan yang membuahkan jawaban indah pada waktunya.

Tetap tekun, ketika hasil yang diharapkan tak juga menampakkan harapan, itulah tantangannya. Saya berharap, pengingatan pagi tadi tidak berlalu begitu saja. Amin :)

Jumat, 19 April 2013

Cara Gabung dBCN (Cara Mendapatkan Web Replika)

Hallo...semangat pagiih :)

Kadang ada pertanyaan begini, "saya member Oriflame, tapi kok nggak punya web dBCN kayak Mbak sih?"

Nah, perlu dijelasin nih, apa sih bedanya Oriflame sama dBCN? Karena keduanya berbeda tapi BERHUBUNGAN ERAAAAT!

Oriflame itu perusahaan kosmetik dan toiletris asal Swedia yang menggunakan sistem penjualan langsung dipadu dengan pemasaran berjenjang (multi level marketing). Nah, kalau dBCN itu adalah satu dari sekian kelompok distributor Oriflame (artinya, selain dBCN, ada kelompok-kelompok distributor lainnya)

Apa sih keunggulan dBCN?
Salah satunya kita punya support online yang canggih dan GRATIS (dengan syarat tertentu)
Untuk menjadi anggota dBCN, maka Anda harus mendaftar Oriflame dengan sponsor seorang member dBCN.

Nah, buat YANG BELUM MEMBER Oriflame, dan pengin daftar dBCN, begini caranya :
(Ini juga merupakan cara bagi member dBCN untuk mendapatkan web replika)

1. Klik web replika  sponsor Anda. Kalau mau jadi jaringan saya nih, maka klik alamat ini : www.dbc-network.com/?id=niceworkingathome
Maka, akan muncul tampilan web seperti di bawah ini:
Setelah nonton video binar-binar mbak Nadia Meuthia, klik GABUNG SEKARANG.



2. Dengan klik menu "GABUNG SEKARANG:, anda akan masuk ke form pengisian data. Isi data dengan lengkap. Lalu, nanti klik kotak pernyataan kebenaran data dan persetujuan untuk mengirim data. (Data tidak akan disalahgunakan untuk kepentingan selain membership dBCN)

# Tips :  gunakan  username yang sesimple mungkin tapi belum pernah dipakai
 


3. Jika pengisian sudah benar dan berhasil, maka akan muncul form di bawah ini. Selanjutnya tunggu dihubungi oleh pemilik web atau malah Anda yang mengontak pemilik web melalui nomor yang tercantum di tampilan ini. Untuk kontak saya, bisa via telp/sms.whatsapp di 087892030743 atau BBM 27162eb7 :)
 

4. Jika web Anda sudah aktif, Anda bisa masuk ke web replika dengan login menggunakan username dan password yang adan isikan dalam kolom data.


# Jika Anda belum menjadi member Oriflame, maka Anda harus lebih dulu mendaftar menjadi member Oriflame (dengan dipandu sponsor langsung Anda yang adalah member dBCN). Setelah mendapatkan nomor member, maka web Anda bisa diaktifasi.

#Jika sudah menjadi member Oriflame, maka kontak sponsor Anda agar web Anda diaktifasi (yang bisa mengaktifasi web replika adalah sponsor dengan level Manager 15% UP)

# Tiap awal bulan, web akan otomatis di-deaktifasi. Web seorang member baru dBCN akan aktif selama bulan pertama bergabung. Selanjutnya, web hanya akan aktif jika memenuhi syarat tutup poin 100 BP pada bulan sebelumnya, atau memiliki satu downline langsung yang tutup poin 100BP.

Yuks..segera bergabung!