| gambar pinjem dari SINI |
Konsistensi. Berdasar penerawangan, itu memang salah
satu kelemahan saya. Susah konsisteeeeeen, terutama untuk melakukan
rencana-rencana pribadi yang butuh kesinambungan. Salah duanya adalah soal
ngeblog dan bikin catatan keuangan rumah tangga.
Yang soal ngeblog, sedikit banyak sudah saya ceritakan
DI SINI. Kalau di tulisan ini, saya mau
cerita tentang inkonsistensi bikin catatan cash-flow rumah tangga.
Ibu-ibu bikin catatan cash-flow rumah tangga nggak? Rincian uang masuk dan keluar?
Saya pernah tanya seorang teman dan dia jawab : SELALU!
Ada juga temennya temen yang rinciii banget bikin catatan keuangan rumah
tangga. Sampai-sampai, pengeluaran yang precil-precil pun komplet ditulis.
Wiiih, kereeen…
Tapi ada juga teman yang jawab : NGGAK PERNAH.
Alasannya, pusing ntar kalau
dicatat-catat. Bisa jantungan lihat rincian belanja-nya. (Pasti ini
belanjanya banyaaak yaaa hihihihi)
Teman yang lain lagi jawab : PERNAH tapi sekarang sudah
nggak lagi. Belum bisa teratur. Padahal pengiiin.
Ibu-ibu termasuk golongan yang mana? Kalau saya jelas
termasuk golongan ketiga. Belum bisa teratur. Padahal pengiiin.
Kenapa sih saya pengiiin bisa teratur bikin catatan? Ya
biar bisa ngerti kemana aja larinya uang rumah tangga. Bagaimanapun ingatan
saya kan terbatas. Sama dengan jumlah income rumah tangga yang juga terbatas.
Nggak seperti income para orkay yang masuk daftar Forbes, duitnya kaga ada
nomor serinya :D.
Terlebih saat ini bisa dibilang rumah tangga kami masih
single income (kalaupun ada dari saya, belum seberapa). Suami mempercayakan pengelolaan gaji pada
saya. Jadi, tanggung jawabnya full, tak hanya selaku menteri keuangan, tapi
juga penyusun RAPBRT (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Rumah Tangga).
Gawatnya, inkonsistensi catat-mencatat keuangan sudah
berlangsung sejak lama. Ceritanya sih, sejak kuliah dan pegang jatah bulanan,
saya mulai catat keuangan pribadi. Tapi ya gitu deh, kadang iya, kadang enggak.
INKONSISTEEEEN KRONISSSS.
Apalagi saat sudah kerja. Merasa punya uang lebih (iya
dong, gaji kan berlipet-lipet daripada jatah bulanan ortu saat kuliah), jadi
makin terlena. Ngapain, catat-mencatat segala. Toh, belum sampai habis, tiap
tanggal 25, rekening diisi lagi sama perusahaan. (Waktooo itooo, masih
berstatus “buta investasi”.. tahunya nabung cash aja. Nggak pengin tuh
investasi ke tanah/rumah atau bentuk investasi lainnya. Paling juga ikut unit
link :D).
Sekarang masa itu sudah lewat. Hidup (sementara ini)
masih dengan penghasilan suami saja. Kalau saya ngotot “bekerja dari rumah”,
sebener-benernya bukan karena “merasa nggak cukup”, tapi karena alasan lain.
(Soal cukup nggak cukup, kayaknya mesti jadi tulisan tersendiri deh). Pengin
kaya nggak dosa kan?
Seberapapun gaji suami, kami sudah bersyukur bangeeeet. Bersyukur masih
bisa belanja sampai akhir bulan, masih bisa pulang kampung naik pesawat (walau
setahun sekali hihihihi). Manusiawi sih kalau pengiiiin gaji lebih gede, bonus lebih nonjok.
Tapiiii, noooh, banyak keluarga yang penghasilannya dua puluh koma. Tiap tinggal
dua puluh sudah “koma”, gali lobang tutup lobang. Kalau yang sekarang ini
merasa masih kuraaaang, Tuhan pantes deh dibilang “kamu kurang ajar”.
Kata para bijaksana, bersyukur dan berusaha, mesti
jalan beriringan.
---------------------------------------------------------------
iklan lewat yaaa...
--------------------------------------------------------------
Kembali ke INKONSISTENSI. Penyakit ini sudah dua
kali bikin masalah. Suami yang biasanya
nggak terlalu peduli sama cash flow uang tiba-tiba inspeksi mendadak. Kekekeke,
bukan karna curiga, tapi karena saat itu lagi butuh duit rada banyak terus
tanya ketersediaan uang sama saya. Daaaaan, rekening kami saldonya tipis semua!
Nah lho… uangnya dipake buat apa ajaaa? Saya nggak hobi
belanja baju, tas, apapun itu lazimnya stigma hobi shopping perempuan. Belanja
buku, sekarang sudah nggak seheboh dulu lagi. Terusss, uangnya kemana aja??
Shock-lah misua. Merasa uda kerja keras banting tulang, eh uangnya enggak ada. Pokoknya
dihitung-hitung, diinget-inget (dengan ingatan yang terbatas itu), ada sekian
uang yang entah kemana. Entah deh,
beneran uangnya lari nggak ketahuan rimbanya atau karena kami salah mengingat?
Coba, ada catatannya…. Kan gampang menelusurinya. Tapi
sekali lagi : gara-gara inkonsistensiiii!!!
Jadi ceritanya, sejak November (2012) kemarin, saya mencanangkan gerakan konsisten pribadi
(nggak pejabat aja yang boleh bikin “pencanangan gerakan” hehehe. Dimulai
dengan konsisten mencatat keuangan dan ngeblog. Puji Tuhan, sebulan lewat, hasilnya cukup
menggembirakan. Walau catatan keuangan masih ala kadarnya (tulisan tangan di
buku..suami menganjurkan pakai excel tapi saya nggak mau… karena nggak bisa
program excel dan belum tergerak mempelajarinya hahahah). Walau ngeblog juga belum tiap hari.
Tapi ini adalah pencapaian. Pencapaian kecil yang saya rayakan dengan membagikan tulisan ini. Terima kasih sudah membacanya… Terima kasiiiih dobel kalau bersedia sharing pengalaman/saran soal catat-mencatat keuangan rumah tangga :).
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengen tambahan penghasilan?
bisnis flexi, fleksibel modalnya, fleksibel waktunya, fleksibel tempatnya!
