Minggu, 02 Desember 2012

Tentang Catatan Keuangan Rumah Tangga



gambar pinjem dari SINI


 Konsistensi. Berdasar penerawangan, itu memang salah satu kelemahan saya. Susah konsisteeeeeen, terutama untuk melakukan rencana-rencana pribadi yang butuh kesinambungan. Salah duanya adalah soal ngeblog dan bikin catatan keuangan rumah tangga.

Yang soal ngeblog, sedikit banyak sudah saya ceritakan DI SINI.  Kalau di tulisan ini, saya mau cerita tentang inkonsistensi bikin catatan cash-flow rumah tangga.

Ibu-ibu bikin catatan cash-flow rumah tangga nggak? Rincian uang masuk dan keluar?

Saya pernah tanya seorang teman dan dia jawab : SELALU! Ada juga temennya temen yang rinciii banget bikin catatan keuangan rumah tangga. Sampai-sampai, pengeluaran yang precil-precil pun komplet ditulis. Wiiih, kereeen…

Tapi ada juga teman yang jawab : NGGAK PERNAH. Alasannya, pusing ntar kalau dicatat-catat. Bisa jantungan lihat rincian belanja-nya. (Pasti ini belanjanya banyaaak yaaa hihihihi)

Teman yang lain lagi jawab : PERNAH tapi sekarang sudah nggak lagi. Belum bisa teratur. Padahal pengiiin.

Ibu-ibu termasuk golongan yang mana? Kalau saya jelas termasuk golongan ketiga.  Belum bisa teratur. Padahal pengiiin.

Kenapa sih saya pengiiin bisa teratur bikin catatan? Ya biar bisa ngerti kemana aja larinya uang rumah tangga. Bagaimanapun ingatan saya kan terbatas. Sama dengan jumlah income rumah tangga yang juga terbatas. Nggak seperti income para orkay yang masuk daftar Forbes, duitnya kaga ada nomor serinya :D.

Terlebih saat ini bisa dibilang rumah tangga kami masih single income (kalaupun ada dari saya, belum seberapa).  Suami mempercayakan pengelolaan gaji pada saya. Jadi, tanggung jawabnya full, tak hanya selaku menteri keuangan, tapi juga penyusun RAPBRT (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Rumah Tangga).

Gawatnya, inkonsistensi catat-mencatat keuangan sudah berlangsung sejak lama. Ceritanya sih, sejak kuliah dan pegang jatah bulanan, saya mulai catat keuangan pribadi. Tapi ya gitu deh, kadang iya, kadang enggak. INKONSISTEEEEN KRONISSSS.

Apalagi saat sudah kerja. Merasa punya uang lebih (iya dong, gaji kan berlipet-lipet daripada jatah bulanan ortu saat kuliah), jadi makin terlena. Ngapain, catat-mencatat segala. Toh, belum sampai habis, tiap tanggal 25, rekening diisi lagi sama perusahaan. (Waktooo itooo, masih berstatus “buta investasi”.. tahunya nabung cash aja. Nggak pengin tuh investasi ke tanah/rumah atau bentuk investasi lainnya. Paling juga ikut unit link :D).

Sekarang masa itu sudah lewat. Hidup (sementara ini) masih dengan penghasilan suami saja. Kalau saya ngotot “bekerja dari rumah”, sebener-benernya bukan karena “merasa nggak cukup”, tapi karena alasan lain. (Soal cukup nggak cukup, kayaknya mesti jadi tulisan tersendiri deh). Pengin kaya nggak dosa kan?

Seberapapun gaji suami, kami  sudah bersyukur bangeeeet. Bersyukur masih bisa belanja sampai akhir bulan, masih bisa pulang kampung naik pesawat (walau setahun sekali hihihihi). Manusiawi sih kalau  pengiiiin gaji lebih gede, bonus lebih nonjok. Tapiiii, noooh, banyak keluarga yang penghasilannya dua puluh koma. Tiap tinggal dua puluh sudah “koma”, gali lobang tutup lobang. Kalau yang sekarang ini merasa masih kuraaaang, Tuhan pantes deh dibilang “kamu kurang ajar”.

Kata para bijaksana, bersyukur dan berusaha, mesti jalan beriringan. 

---------------------------------------------------------------
iklan lewat yaaa...
 --------------------------------------------------------------

Kembali ke INKONSISTENSI. Penyakit ini sudah dua kali  bikin masalah. Suami yang biasanya nggak terlalu peduli sama cash flow uang tiba-tiba inspeksi mendadak. Kekekeke, bukan karna curiga, tapi karena saat itu lagi butuh duit rada banyak terus tanya ketersediaan uang sama saya. Daaaaan, rekening kami saldonya tipis semua!

Nah lho… uangnya dipake buat apa ajaaa? Saya nggak hobi belanja baju, tas, apapun itu lazimnya stigma hobi shopping perempuan. Belanja buku, sekarang sudah nggak seheboh dulu lagi. Terusss, uangnya kemana aja?? Shock-lah misua. Merasa uda kerja keras banting tulang, eh uangnya enggak ada. Pokoknya dihitung-hitung, diinget-inget (dengan ingatan yang terbatas itu), ada sekian uang yang entah kemana.  Entah deh, beneran uangnya lari nggak ketahuan rimbanya atau karena kami salah mengingat?

Coba, ada catatannya…. Kan gampang menelusurinya. Tapi sekali lagi : gara-gara inkonsistensiiii!!!

Jadi ceritanya, sejak November (2012) kemarin,  saya mencanangkan gerakan konsisten pribadi (nggak pejabat aja yang boleh bikin “pencanangan gerakan” hehehe. Dimulai dengan konsisten mencatat keuangan dan ngeblog.  Puji Tuhan, sebulan lewat, hasilnya cukup menggembirakan. Walau catatan keuangan masih ala kadarnya (tulisan tangan di buku..suami menganjurkan pakai excel tapi saya nggak mau… karena nggak bisa program excel dan belum tergerak mempelajarinya hahahah).  Walau ngeblog juga belum tiap hari.

Tapi ini adalah pencapaian. Pencapaian kecil yang saya rayakan dengan membagikan tulisan ini. Terima kasih sudah membacanya… Terima kasiiiih dobel kalau bersedia sharing pengalaman/saran soal catat-mencatat keuangan rumah tangga :).

---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengen tambahan penghasilan?
bisnis flexi, fleksibel modalnya, fleksibel waktunya, fleksibel tempatnya!

Sabtu, 01 Desember 2012

Kau-pun Sering Begitu Pada-KU


gambar pinjem dari SINI


Dulu saya sempat males menikah. “Lah ngapain menikah, kalau sendiri saja bisa hepi begini?” Mandiri aktifitas, mandiri finansial… rasanya sudah cukup. Apalagi nggak ada ortu yang selalu mengejar-ngejar agar  saya segera menikah (tapi saya yakin, beliau selalu mendoakan).

Well, sindrom pasca emansipasi yang saya yakin nggak hanya sempat nangkring di kepala saya, tapi mungkin juga Anda yang sedang baca tulisan ini. Hayoo ngakuuu …. Hijijiji.
Menikah itu ibadah.

Lha tapi kalau menikah dan isinya berantem melulu… apa jadi ibadah? Saya selalu punya jawaban penyanggah.

Belum juga menikah sudah ngebayangin berantem. Trauma ortu suka berantem yak? Eh enggak. Ortu saya terpisah karena maut, bukan karena pengadilan. Selama masih bersama, beliau berdua memang bukan pasangan yang selalu tampak serasi ala almarhum Sophan Sopian dengan Widyawati. Tapi sejauh saya ingat, almarhum bapak dengan emak tak pernah bertengkar hebat sampai mendatangkan pesawat luar angkasa (baca : piring terbang).  Iyaaa, kadang saya tahu beliau berdua lagi marahan. Tapi enggak pernah yang sampai dramatis nan tragis.

Intinya, secara umum, bapak-emak tergolong keluarga yang rukun.

Kalau saya males menikah, itu salah satunya karena saya merasa pernikahan adalah situasi yang kompleks. Yang sulit. Karena dua kepala harus jadi satu rumah dalam periode yang lamaaa dan menerus. Gimana kalau bosen? Gimana kalau nggak cocok? Ih, saya mah enggak seperti bupati Garut yang berprinsip “pernikahan seperti transaksi jual beli. Kalau setelah saya beli spek-nya nggak cocok, boleh dong saya kembalikan.”  (disadur dari artikel di “Majalah Detik”)

Asliiii…tertegun, ternganga, terperanjat baca pernyataan Pak Bup? Sungguhan itu? Bolehkah saya berharap wartawan Detik salah kutip?

Perceraian nggak ada sama sekali di kamus saya, di angan-angan saya. Bahkan itu nightmare buat saya. Makanya, mending nggak merid daripada ntar cerai …. Pernyataan yang kalau dipikir sekarang : PENGECUT banget yaaa… nggak berani menghadapi tantangan.

Dan memang, walaupun saya selalu berada di antara kutup menikah-nggak-menikah-nggak-menikah…. Ya akhirnya memang menikah. Proses yang saya yakin ada campur tangan kuat Tuhan. Lha wong barusan galau karena ragu menikah, trus putus, eh tiba-tiba ketemu teman lama dan langsung “oke, ayo kalau kita merid.”

Jalan hidup sering tak terduga.

Meski demikian, sedari awal saya sudah berpikir bahwa ini mungkin tak akan mudah. Tak akan selalu mulus. Terutama karena saya punya ego yang tinggi (eh lha perempuan pasca Kartini gitu… lebih berdaya, merasa bisa, mampu melawan, nggak mau dijadikan “konco wingking” saja)

Dan memang.. empat tahun ini bagai petualangan. Kadang hepi, kadang sedih, kadang berantem, kadang galau, kadang kangen. Tapi bersyukur, seperti di rumah tangga orangtua kami, saya dan BJ juga belum pernah berantem sampai main UFO hehehe.  Berantemnya sopan… cenderung diem-dieman daripada adu suara (bukan penyanyi sih :D)

Uniknya, sering kali pertentangan itu hanya karena hal sepele. Seperti BJ sembarangan naruh handuk. Atau BJ travelling keluar kota dan terlalu sibuk sehingga nggak sms/telp. Atau saya terlalu asik dengan computer. Atau saya nggak segera tanggap ketika dibutuhkan.
Itu bukan sebab-sebab serius seperti suami-mabuk-melulu, atau istri-belanja-melulu, atau suami-anak-mami, atau istri-selingkuh. Ya kan?

Tapi yang sepele-sepele ternyata sering bikin berabe.  Apalagi saya, perempuan, yang lebih sering pakai perasaan. Sementara suami adalah laki-laki yang lebih mengunggulkan logika. Kadang saya esmosi tingkat tinggi tapi karena nggak bisa meledakkan akhirnya jadi melowyelow, eh suami tenang-tenang saja karena merasa masalah sudah selesai.

Perasaan versus logika. Venus versus Mars

Dulu saya heraaan banget ketika mendengar pernyataan senior di persekutuan mahasiswa Kristen yang bilang begini : “suami istri bisa bercerai hanya gara-gara pembersih kuping (cotton bud)”  . Tentu maksudnya gara-gara hal sepele.

Pikir saya, ah masa siiih hanya gara-gara cotton bud?

Tapi ternyata memang bisa saja. Lha kalo gara-gara “lupa naruh cotton bud” trus langsung dituduh : “kamu memang ceroboh!”. Kamu >> berarti sudah menyerang karakter keseluruhan, nggak sekedar soal cotton bud saja. Sudah deh, bisa melebar dan mengalir sampai jauuuuuh… sampai akhirnya talak.

Sedih kan?

Tapi memang begitu rasanya dinamika hidup suami istri ya… Hal-hal beginian sepertinya kok enggak aneh. Justru kalau 100 persen adem ayem itu yang aneh kali yak.. ada gitu yang adem ayem 100 persen?

Semua memang perlu proses kan yaaa…

Puji Tuhan hari-hari ini, rasanya sisi sabar saya lagi sering menang. Walapun mungkin suami nggak melihat perbedaan signifikan, setidaknya saya merasa lebih bisa menahan diri. Biasanya, kalau ada ketidakcocokan, langsung ada dua tanduk tumbuh di kepala. Tapi hari-hari ini, entah mengapa, setiap saya mulai bête sama misua karena perilaku-nya (yang nggak cocok dengan keinginan saya), rasanya selalu ada SUARA yang bilang : 

“Eh ngapain kamu bête. Kau pun sering begitu pada-KU.”
“AKU bisa memaklumi kamu, memaafkan kamu. Kamu pasti juga bisa, sayang…AKU akan bantu kamu”

AKU dalam huruf besar. Ya, seolah saya dan DIA berdialog atas kegalauan saya. Saya percaya itu suara-NYA. Sebab, DIA yang telah menyatukan kami dalam ikatan kudus. DIA yang memiliki rencana indah untuk keluarga kami. DIA yang membawa saya pada pernikahan, untuk melatih kesabaran, rendah hati, berjuang, dan bersyukur untuk hal-hal kecil.
Suara-NYA sangat menolong saya yang emosian. Walau kadang saya mengabaikan suara-NYA dan lebih mendengarkan ego saya.

“Eh ngapain kamu bête. Kau pun serung begitu pada-KU”

Perjalanan masih panjang. Mudah-mudahan kami selalu mau dengar suara-NYA. Lima hari lagi BJ dan LSD  4th anniversary.



 *saya selalu ingat kata yang memesona itu : SHMILY...



Cara Membuat Kategori Label



Bagi yang kemarin-kemarin pernah berkunjung ke sini dengan tampilan versi PC, mungkin sekarang akan melihat ada perubahan (kalau kemarin sempat merhatikan siiih :). Yakni ada list menu yang muncul di dekat header (nggak hanya di samping aja gituuu). Bisa lihat kan ada menu : "Beranda.BeingWife.BeingMom.BeingWaHM. dBCN/Oriflame.Bianglala." di bawah judul blog.

Sebenarnya sudah lamaaa, ingin membuat tampilan beginian. Tapi hingga sebelum hari ini baru sebatas ingin saja. Belum BERGERAK untuk cari informasi bagemana caranya -- karena memang belum ngeeeh :D. Padahal inti dari "mewujudkan keinginan" adalah "bergerak" kan? Dan kadang "gerakan" ini nggak susah lho. Untuk urusan begini tentunya tinggal cari info caranya gimana, terus praktik, then kalo masih gagal, coba lagi,,,gitu terus sampe bisa.

Apapun itu, memang yang turning point-nya di "GERAK".  Kalau cuma pengin sih, semua orang bisa kaliiii.. Ya kan?

Hari ini, habis menuntaskan posting Home Sharing Pertamaku part dua, tiba-tiba teringat keinginan itu dan ada semangat membara untuk BERGERAK. Langsung deh googling dengan keyword "cara membuat kategori di blogspot". Seperti biasa, oleh Oom Google langsung dikasih buanyak alternatif (tak habis terima kasih untuk Oom Google, teman setia belajarku selama inih). 


Coba beberapa di page satu saja. Dari beberapa yang aku klik, seperti biasa, pilih yang tampaknya nggak ribet, yakni dari artikel blog milik
M. Ramy Dhia Humam di SINI. 

Sengaja menautkan link asli sebagai rasa terima kasih atas sharing ilmunya. Walaupun mungkin copas dengan mencantumkan sumber itu lumayan sopan. Tapi kalau sudah pakai print screen segala kayak gini, rasanya nggak afdol kalau nggak bikin sendiri.

Tutorialnya simple kok. Aku langsung sukses loh..Walaupun memang katanya blogspot nggak bisa bikin parent kategori seperti di wordpress (kecuali kalau pakai template khusus). Tapi ini cukup lah buat blogger cupu seperti aku hihihi.


Makasiiih ya Ramy...  Dari profilnya tertulis Ramy "turun ke bumi" tahun 1995. Soal belajar mah, nggak masalah belajar dari yang jauh lebih muda.

--------------------------------------------------

Gaptek tapi Pengin Bisnis Online?
Join Oriflame - dBCN yuk.. ada support grup untuk belajar ilmu online.

Jumat, 30 November 2012

Home Sharing Pertamaku (2)



Lanjutan dari TULISAN INI  yaaa...

Setelah ketok palu untuk bikin acara hari Kamis, sejak Rabu aku sudah persiapan. Maklum, bisa dibilang single fighter beneran. BJ lagi di Medan, jadi mulai dari persiapan undangan, ruangan, snack, minuman, dll ya sendirian. Ale bantu kasih semangat aja hehehe. Rabu pagi-pagi aku bikin undangannya, bikin pake word (lha wong belum bisa program lainnya xxixixi). Menjelang siang kukasih undangannya ke ibu-ibu yang lagi nunggu anak-anaknya. Sore mastikan ke tukang salon plus pesen  gorengan (soal snack nyerah kalo suruh bikin sendiri :D). Malemnya, nyiapin ruangan…geser sofa, gelar karpet, nyiapin make-up. Kamis pagi, bangun gasik, nyiapin display produk lalu masak, nyapu, mandiin Ale, kasih makan Ale, de-el-el segala urusan domestik. Saat persiapan ini, Ale baiiik, nggak neko-neko … kiss sayang ya Nak. Bahkan pagi itu, ada anak tetangga main dan ikut sarapan+mandi bareng Ale. Tapi semua lancar.

Jam 09.30, aku dan Ale sudah rapi jali. Sampai jam 10 thet, belum ada yang datang. Yeaiii, jam Endonesa gituu.. pabriknya kan deket goodyear, jadi suka ngaret wkwkkwwk. Tapi nggak molor terlalu lama, satu per satu pada masuk rumah. Eda (panggilan untuk perempuan dewasa di Batak) Desi datang paling awal. Berhubung acara belum dimulai, Eda Desi malah semangat coba-coba make up duluan. Eda Desi nyobain pake Very Me eyeliner (cair) dan hasilnya : belepotan dan pas dibersihkan pakai kapas, mata jadi cemong hitam seperti bajak laut ixixixix (sayang enggak kuphoto).

Oke, acara segera dimulai. Aku awali dengan presentasi singkat tentang Oriflame. Bla bli blu… weleh, presentasiku masih kacaaau. Rasaku nggak menarik blas, nggak pakai ice breaking segala. Ya pie, belum pede. Wis lah ga papa- learning by doing toh.. Dan langsung masuk acara demo make-upnya. Eda Oliv bersedia jadi model. Dimulai dengan membentuk alis, pembersih, toner, cream, alas bedak, bedak, lalu rias mata, terakhir bibir.

Usai dirias, Eda Oliv langsung centil foto-foto sendiri. Coba pas ada undangan pesta ya.. Tinggal lengkapi  tata rambut, trus ganti baju deh. Setelah Eda Oliv, harusnya sudah (jatah modelnya satu aja). Tapi masih ada emak-emak lain yang antusias cob arias-rias sendiri. Eda Yo dan Eda Eka kegirangan bisa coba pake make up lengkap gratis hihihi….pissss ah. Beberapa ibu-ibu minta dibentuk alis-nya sama Kak Emi.

Eh ya, cerita lucu Eda Desi ternyata tak berhenti di mata yang cemong hitam kayak bajak laut. Ketika Eda Yo dan Eda Eka coba-coba pake make up Marcel palett-ku, baru ketahuan kalau tadi Eda Desi pakai lipstick yang di palette untuk rias mata/eye shadow. Oalaaah… hihihihi.

Harusnya aku juga ikut belajar.. tapi malah nggak bisa karena sesekali  ada yang tanya-tanya tentang Oriflame. Novi yang dateng bawain katalog Desember pun nggak kutemui dengan selayaknya (maaf ya Nov… belibet hehehe).

Tapi yang lebih heboh di acara ini justru Ale and the gank. Namanya acara ibu-ibu, sebagian bawa anak-anak dong. Selama acara, mereka main-main di mana aja, termasuk di kamar dekat ruang tamu.  Minta minum, minta makanan, Ale minta difoto-foto, juga maksa pegang-pegang kamera.  Jadi nggak bisa maksimal foto-foto acara.  Belum lagi anak-anak rebutan mainan. Jadilah mereka berantem sampai salah satu atau keduanya nangis. Dooooh  Nak, kan sudah dipeseni Ayah, harus bantu menciptakan situasi kondusif saat Bunda home sharing…. Tapi namanya anak-anak yaaaaaaa…. Selesai acara, kondisi rumah saingan sama Titanic yang sudah mau karam (hehehhe lebayyyy mode on). Tapi ada kok yang mau bantuin beres-beres.

Begitulah salah satu kerempongan untuk ngejar kursi senior manager inih hihihi. Semestinya ada Eda Yo, satu-satunya downline di sini bisa bantu-bantu. Tapi pas pula dia ada tamu jauuuh, papa angkatnya dari Belanda. Ya aku lebih dari maklum. Taka pa aku single fighter ngrangkep tugas sie acara, sie konsumsi, sie akomodadi, dan sie dokumentasi hihihi.

Memang masih buanyak kekurangan, terutama bagian presentasinya. Tapi aku bersyukur acara bisa berjalan lancar. Senang lihat antusiasme ibu-ibu. Kalau ada yang “diem saja” ya aku lebih dari maklum mengingat kelakuanku dulu saat diundang home sharing (yang aku ceritakan di tulisan pertama). Mungkin ada juga kan di antara peserta yang sekedar datang sambil merasa "acara ini nggak gue bangeeet deh" hehehe. Setidaknya ada yang secara eksplisit mengatakan acara seperti ini memang bermanfaat. Nggak hanya sosialita yang butuh kumpul-kumpul bersosialisasi, ibu-ibu kampung kayak aku juga butuh sosialisasi toh… sama-sama mahluk sosial jeu.

Pengalaman ini sangat berharga.  Setidaknya, aku nggak kapok, bahkan lebih pede untuk ngadain home sharing lagi. Mudah-mudahan, keluarga manfaatku juga jadi beraniiii dan manteeep untuk menyusul bikin acara serupa. Nggak susah kok..

GO SM!!

-------------------------------------------
Lisdha
HP/WhatsApp : 087892030743
www.onlineproduktif.tk  
Add my facebook : Lis "Lisdha" Dhaniati / forlisdha@yahoo.com 

Kamis, 29 November 2012

Home Sharing Pertamaku (1)



Tahun 2009, waktu masih tinggal di Kabanjahe, aku diundang tetangga untuk ikut acara di rumahnya. Bukan acara hajat, tapi promo produk (sebut saja lah ya) Tupperware. Nama acaranya “home party”. Saat itu, beberapa member Tupperware datang  ke non-member yang memperolehkan rumahnya jadi tempat party (baca : promosi). Si empunya rumah mengundang tetangga kanan-kiri untuk datang. Terhitung salah satu tetangga dekat, aku diundang.

Saat itu aku masih baruuu saja ganti status dari perempuan karir ke ibu rumah tangga. Juga belum lama tinggal di Kabanjahe. Segalanya masih serba adaptasi. Jadi, baiklah kuputuskan datang. Itung-itung sosialisasi sebagai warga baru di perumahan Sarinembah. 

Dan di situlah aku. Untuk pertama kalinya di acara ibu-ibu, di acara promosi produk rumah tangga.

Jadi dalam hati saat itu aku berseru-seru : Oh tyidaaaaxxx!!! (dalam hati doang, ga berani di mulut, takut ditimpuk yang punya rumah kekekeke). Pinjem bahasa Jakerda : nggak gue bangeeet dah. Oke oke oke, dulu juga sering sih dateng ke acara-acara yang "enggak gue banget". Tapi posisiku bukan peserta, bukan terlibat.. aku hanya "orang luar" yang datang/diundang atas nama pekerjaan. Ya maklum, meski sudah termasuk golongan ibu-ibu rumah tangga, tapi hati belum full di situ xixixixi.

Perasaan “nggak gue banget” juga masih kuat ketika diundang ke acara promosi “blender ajaib” di rumah salah satu tetangga.  Blender ajaib mah istilahku aja karena aku lupa nama produknya. Itu lho blender serbaguna yang harganya juga ajaib hihihi. Memang yaa.. ibu-ibu adalah pasar empuk aneka macam produk, termasuk produk kosmetik (Apalagi produk ini… produk mbak-mbak/ibuk-ibuk banget kan… *pertanyaan retoris :D)

Nyatanya, aku juga terdampar di acara promo salah satu produk kecantikan yang juga digelar di salah satu rumah tetanggga.  (Baru sekarang deh mikir, perumahan Sarinembah kayaknya emang “seksi” banget buat ajang promo). Waktu itu aku lagi buncit tua. Sebenere males, tapi demi asas rukun tetangga, jadilah aku datang. Sengaja datang telat, plus maksa duduk di pojok belakang. Alih-alih ndengerin bla-bli-blu si presentator, aku pilih ngobrol atau sekedar lihat-lihat katalog di mana nggak ada satu produk pun yang bikin aku pengin beli. Melengkapi datang telat, aku pulang duluan.

Eh gue gitu lho…nggak hobi dandan, meyakini mitos kecantikan, dan menganggap belanja kosmetik ada kesia-siaan. Jadih, lebih serius dari alasan “nggak gue banget” di home party Tupperware. Di acara ini “nggak gue banget”-nya menyangkut ideologi. Kalaupun saat kuliah juga pernah jd retailer salah satu produk kecantikan, … kuanggap itu sebagai cacat sejarah. (Welleh-welleh pangkat lima belas deh)

Oh ya, merk produk kecantikan yang dipromosikan di acara itu adalah …. Treng treng treng… ORIFLAME!

Tapi, apa sih yang tidak berubah di dunia ini selain perubahan itu sendiri? (Wuih, contek filsuf mode on). Tahun berganti. Medio 2011, gara-gara tawaran teman yang datang tepat saat aku lagi pengen ngerti “bisnis online”, aku justru jadi member Oriflame di grup dBC Network. Waktu itu tertarik coba ya karena iming-iming "online marketingnya".  Apapun alasannya, ini mungkin bisa pake pepatah lama "menjilat ludah sendiri". (Hiiiih, jijai).

Dan seperti yang aku tulis di “Gengsi Segede Gaban”, nggak hanya gabung terus muntaber (mundur tanpa berita), aku justru malah go on dengan bisnis ini. Mungkin memang benar pepatah “tak kenal maka tak sayang.” Dulu aku nggak kenal, nggak mau kenal, tapi akhirnya ada hal-hal yang membuatku mau kenal, dan bahkan mau terlibat lebih dalam.

Masih serasa percaya nggak percaya, hari ini aku membuat “home sharing” di rumah kontrakanku. Promo produk Oriflame plus demo dandan. Tapi berhubung aku sebagai empunya acara, jadi bukan aku deh yang didandani .. padahal ngarep xixixixi. Seperti cakram film di-rewind, aku ingetttt bagaimana dulu aku sekedar datang karena males. Sesuatu yang membuatku “legowo” apapun yang akan terjadi pada acara perdana ini.



Sebenarnya sedari lama sudah dikomporing eyang Astriani untuk bikin home sharing. Tapi waktu itu banyak alesan : nggak bisa, belum pernah, nggak bisa ndandanin dll… Apapun itu adalah ALASAN! (Sekarang sih makin  yakin : kalau bener-bener niat, pasti ada jalan kok).


Gara-gara merasa memang sama sekaliiiik nggak punya kemampuan make – up (bisanya pulas-pulas lipstick doaang. Itupun kalo diminta saran sama customer  “warna lipstick apa yang cocok buat bibir/warna kulitku?”  GUBRAK, gak bisa jawab! Apalagi pulas-pulas eye shadow, blush on… Ini memang beauty consultant yang jauh dari status kredibel :D.

Tapi baiklah, aku sudah niat nggak akan setengah-setengah lagi. Wong kerjaan keren begini jeuuu. Kalo lihat video-video meeting Oriflame itu, keren kali loh. Walau bukan keren meeting  yang paling bikin aku bertahan di bisnis ini. Tapi keren manfaatnya itu lhoooo… Sebagian sudah kurasakan.

Dengan niat nggak akan setengah-setengah,  aku jadi ingin belajar ilmu make – up. Ya walaupun ilmu dasar dulu.. masak pake blush on aja nggak bener :D. Sempat mikir untuk kursus singkat.  Tapi belum-belum aku sudah ciut. Waktunya itu lho… Ale mau dititipin siapa. Kalau diajak jelas nggak bisa. Ngapain enggak belajar sama ibu-ibu sekitar saja, toh mereka selama ini konsumen setia. Malah lebih bermanfaat.

Mbak Astri kirim file “cara bikin home sharing” dalam bentuk zip. Tapi entah kenapa, berkali-kali kucoba di lapiku tetap ga bisa. (ya begene nih kalo ibuk-ibuk gaptek :D). Sampai-sampai Mbak Astri tag aku artikel sejenis yang ternyata sudah ada di facebook.

Oke, tanggal direncanakan pertengahan bulan. Karena saat Mbak Astri juga sudah bersedia untuk datang kalau temen-temen di Solo mau bikin home sharing.  Dan mbak Astri kasih tanggal 24/25 November. Jadi, aku rencanakan bikin home sharing duluan. Maksudnya siiih, sebagai leader ya mesti Ing Ngarso Sung Tulodho gitu.. Tapi rencana tinggal rencana, sepulang Leader Meeting dari Jakarta, beliau sakit. Jadi pendinglah acara di Solo.

Aku juga jadi re-schedul. Apalagi saat itu nggak segera dapet tukang salon. Jadi, akhir bulan saja-lah, sekalian nunggu katalog bulan Desember yang sudah kupesan ke mbak Tresna, koodinator dBCN Medan. Tapi ternyata, sampai awal minggu ini, katalog belum juga dikirim. Mungkin mbak Tresna sibuk karena ketika kutanya jawabnya “sabar ya..”. Ya namanya orang nitip, masa mau ngedumel. Kualat ntar..

Tapi aku nggak mau nunggu sampai bulan depan. Karena Desember, orang sini pasti sudah sibuk Natalan. Aku sempat usaha pinjem katalog ke stokist Oriflame di Siantar. Hasilnya : ditolak, dengan alasan:  beda jaringan.  Aku makluuuum banget kok, kuusir godaan rasa gondok. Tapi hal itu bikin aku bertekad, nggak akan segan-segan bantu crossline (kalau ada yang butuh bantuan – dan aku bisa bantu). Beda jaringan, toh sama-sama Oriflame.

Walaupun nggak ada katalog Desember, the show must go on.  Masalah katalog selesai, eh ganti bingung  nentuin waktunya. Mau sore khawatir hujan. Lagian target peserta kebanyakan IRT juga, plus sebagian mereka adalah ibu-ibu yang suka jemput anaknya pulang sekolah (depan rumah kami ada SMP dan SD Katolik). Jadi kuputuskan jam 10 saja. Tukang salon (Kak Emi) tadinya minta jam 13.30, tapi akhirnya oke Kamis (29/11) jam 10 WIB. Saat itu aku juga kontak-kontakan dengan Novi, dBC-ers baru yang tahu nomor HPku dari forum web dBC. Dia bisa kalau Kamis jam segitu.
 
Tsssah…  aku bisa sampai sejauh ini. Buat orang lain mungkin bukan apa-apa. Tapi buatku ini pembuktian bahwa aku bertanggung jawab dengan pilihanku, bersedia mencoba hal-hal baru –yang kontras sekalipun, dan tidak setengah-setengah lagi menjalani pekerjaanku. Cerita tentang situasi home sharing-nya ada di PART DUA yaaa..

GO SM!!! 

----------------------
Lisdha
www.onlineproduktif.tk
Telp/sms/whatsapp : 087892030743
Facebook : Lis "Lisdha" Dhaniati / forlisdha@yahoo.com