Jumat, 19 April 2013

Cara Gabung dBCN (Cara Mendapatkan Web Replika)

Hallo...semangat pagiih :)

Kadang ada pertanyaan begini, "saya member Oriflame, tapi kok nggak punya web dBCN kayak Mbak sih?"

Nah, perlu dijelasin nih, apa sih bedanya Oriflame sama dBCN? Karena keduanya berbeda tapi BERHUBUNGAN ERAAAAT!

Oriflame itu perusahaan kosmetik dan toiletris asal Swedia yang menggunakan sistem penjualan langsung dipadu dengan pemasaran berjenjang (multi level marketing). Nah, kalau dBCN itu adalah satu dari sekian kelompok distributor Oriflame (artinya, selain dBCN, ada kelompok-kelompok distributor lainnya)

Apa sih keunggulan dBCN?
Salah satunya kita punya support online yang canggih dan GRATIS (dengan syarat tertentu)
Untuk menjadi anggota dBCN, maka Anda harus mendaftar Oriflame dengan sponsor seorang member dBCN.

Nah, buat YANG BELUM MEMBER Oriflame, dan pengin daftar dBCN, begini caranya :
(Ini juga merupakan cara bagi member dBCN untuk mendapatkan web replika)

1. Klik web replika  sponsor Anda. Kalau mau jadi jaringan saya nih, maka klik alamat ini : www.dbc-network.com/?id=niceworkingathome
Maka, akan muncul tampilan web seperti di bawah ini:
Setelah nonton video binar-binar mbak Nadia Meuthia, klik GABUNG SEKARANG.



2. Dengan klik menu "GABUNG SEKARANG:, anda akan masuk ke form pengisian data. Isi data dengan lengkap. Lalu, nanti klik kotak pernyataan kebenaran data dan persetujuan untuk mengirim data. (Data tidak akan disalahgunakan untuk kepentingan selain membership dBCN)

# Tips :  gunakan  username yang sesimple mungkin tapi belum pernah dipakai
 


3. Jika pengisian sudah benar dan berhasil, maka akan muncul form di bawah ini. Selanjutnya tunggu dihubungi oleh pemilik web atau malah Anda yang mengontak pemilik web melalui nomor yang tercantum di tampilan ini. Untuk kontak saya, bisa via telp/sms.whatsapp di 087892030743 atau BBM 27162eb7 :)
 

4. Jika web Anda sudah aktif, Anda bisa masuk ke web replika dengan login menggunakan username dan password yang adan isikan dalam kolom data.


# Jika Anda belum menjadi member Oriflame, maka Anda harus lebih dulu mendaftar menjadi member Oriflame (dengan dipandu sponsor langsung Anda yang adalah member dBCN). Setelah mendapatkan nomor member, maka web Anda bisa diaktifasi.

#Jika sudah menjadi member Oriflame, maka kontak sponsor Anda agar web Anda diaktifasi (yang bisa mengaktifasi web replika adalah sponsor dengan level Manager 15% UP)

# Tiap awal bulan, web akan otomatis di-deaktifasi. Web seorang member baru dBCN akan aktif selama bulan pertama bergabung. Selanjutnya, web hanya akan aktif jika memenuhi syarat tutup poin 100 BP pada bulan sebelumnya, atau memiliki satu downline langsung yang tutup poin 100BP.

Yuks..segera bergabung!












Selasa, 19 Maret 2013

Cara Membeli Domain Forwarding

Pengin Ngantor di Rumah???
KERJAAN INI bisa jadi pilihanmu.
-----------------------------------------------------------------------

Semula tips ini akan saya post di grup Facebook jaringan saya. Sebab, beberapa downline masih bingung soal ini. Tapi, saya pikir, post di blog saja lah... Mana tau ada orang-orang di luar jaringan saya yang mendapat manfaat dari post ini.

Buat para suhu internet, sudah pasti ini tips yang sederhana banget. Tapi buat kami-kami yang masih belajar awal soal internet, ini masih ilmu baru. Tadinya pun, "apa-itu-domain" saja mesti buka google :D. Bersyukur, berbisnis Oriflame via dBC Network membuat saya terpacu untuk belajar. Setidaknya mengurangi kadar gaptek gitu :)

Sebelumnya, apa sih domain?
DOMAIN adalah sebuah nama/identitas di internet. Domain dipergunakan untuk mempermudah pengunjung mengingat alamat website. (penjelasan lebih lanjut tentang domain, antara lain bisa lihat di SINI)

Tapi yang sedang kita bahas adalah domain forwading, yaitu domain yang digunakan untuk membelokkan / mem-forward  sebuah alamat website / blog/subdomain yang panjang. Fungsinya kurang lebih agar lebih mudah diingat. Seperti web replika dBCN saya : www.dbc-network.biz/?id=niceworkingathome. Ribet kan mengingatnya? Beda setelah saya pakai domain forwarding : www.sudahterbukti.com.  Atau jika suatu saat saya ingin memendekkan nama blog ini, dari www.beingwife1.blogspot.com menjadi www.beingwife.com.

Jadi lebih simpel dan mudah diingat kan? Bayangkan kalau kita punya toko, terus nama tokonya saja sudah susah diingat. Orang pasti sudah males duluan untuk mampir ke toko kita :)

Di sini saya pakai contoh pembelian domain di www.idwebhost.com.  Bukan karena saya berafiliasi dengan perusahaan tersebut, cuma untuk mudahnya saja karena saya biasa beli domain di situ :).

Langkah pertama :
Buka web idwebhost dan akan muncul tampilan sebagai berikut :



Langkah kedua : 
Anda bisa klik menu "domain" (di salah satu kotak biru) atau langsung memasukkan nama domain yang anda inginkan di kotak putih. Pada kotak putih, akhiran (ekstension) yang tercantum adalah .com. Anda bisa memilih ekstension (biz, org, info dan lain-lain) dengan mengklik tanda segitiga di sebelah tulisan .com. Beda ekstension bisa beda harga.

Jika domain sudah terpakai, maka akan muncul keterangan agar anda memasukkan nama domain lainnya. Jika belum terpakai, maka anda bisa lanjut ke langkah selanjutnya. Di sini, saya contohkan membeli domain : lisdhaniati, dan belum dipakai (ya iyalah, nama pribadi gitu :D).






Langkah ketiga
Lihat tanda panah merah (choose service). Berhubung hanya akan membeli domain, maka pastikan klik tombol "domain" saja lalu lanjut klik  "order".
 


Langkah keempat
Langkah 2a dari 3 : Jika sebelumnya sudah pernah registrasi dan memiliki akun di idwebhost, tinggal isikan username dan password. Jika belum silakan registrasi lebih dulu. Pernah seorang downline saya bertanya, apakah harus diisi data asli? (Dia agak khawatir dengan mengisi data-data pribadi di internet). Ini tergantung pilihan anda yaa... saya pernah didaftarkan orang lain dengan data asal. Pernah juga register sendiri dengan data asli. Sama-sama berhasil beli domain kok :)

Lihat panah warna hitam, di web langsung tercantum masa kontrak selama dua tahun. Edit jika ingin mengubahnya. Saat saya posting tulisan ini, untuk ekstension dot com, harga Rp 89.000  untuk masa kontrak satu tahun.



Langkah kelima
Semua pertanyaan tambahan ini langsung tersetting di jawaban tidak, kecuali anda ingin menambah layanan, pastikan semua jawaban adalah "TIDAK", lalu klik NEXT (panah merah)


 Langkah keenam
Langkah 2b dari 3. Muncul info nama server yang dituju. Tidak perlu diotak-atik, langsung klik next.


Langkah ketujuh
Muncul keterangan pembelian Anda plus jumlah yang harus Anda bayarkan, yakni senilai harga domain dan masa kontrak plus kode unik untuk keperluan check pembayaran. Kecuali anda ingin order lagi, langsung klik check out.


Langkah terakhir

Cek email yang anda gunakan saat registrasi untuk mendapatkan konfirmasi jumlah pembayaran dan rekening tujuan pembayaran. Biasanya, setelah membayar saya akan chatting dengan bagian billing untuk konfirmasi pembayaran (menu chatting tersedia di halaman depan idwebhost). Juga chatting dengan customer service agar domain saya diaktifasi dan diforward ke alamat web yang saya maksud.

Sudah deh. Tinggal tunggu dan domain Anda sudah berfungsi. Jika terjadi kelambatan/kesalahan, langsung hubungi CS :)

-----------------------------------------------------------------------------
KLIK GAMBAR INI!!


Sabtu, 16 Maret 2013

Resep Sambal Andaliman


berhubung ga punya foto hasil masakan sendiri, jadi gambar pinjem dari SINI


Posting resep sambel andaliman ini sambil maluuu (sembunyi balik laptop). Iyalaah.. Lisdha yang ga gape masak ini posting resep wkwkw. Tapi berhubung saya sudah janji, haruslah saya post meski sambil malu-malu kucing. Lagipula ngapain malu ya…secara ini resep hasil wawancara  tetangga yang sambal andalimannya sudah terbukti sedaaap. Saya sendiri kalau bikin sambal ini seringnya pakai ilmu kira-kira… makanya jadi gelagepan ketika diminta resep sama Mbak Hayu dan Mbak Rifati dari grup Ibu-Ibu Doyan Nulis. 

(Eh ya, mungkin yang minta resep sampai sudah lupa saking lamanya hehehe). Maaf ya mbak…

gambar pinjem dari SINI


Andaliman atau sering juga disebut merica Batak, memang salah satu bumbu khas Tanah Batak. Saya baru kenal bumbu ini juga setelah tinggal di Sumatera Utara (tahun 2009). Awalnya lidah saya “menolak” karena bumbu ini terasa aneh. Pedas tapi ada rasa dan bau yang khas..  Eh lama-lama lidah saya bisa beradaptasi. Malah sekarang suka!

Sambal ini enak dimakan bareng ayam/ikan  bakar/panggang (dimasak terpisah). Tapi  bisa juga dicampur langsung saat memasak.. seperti memasak balado.Jadi seperti ini :

gambar sendiri :)


 Ihiiir, nggak usah berpanjang-panjang ya.. Berikut resep versi tetangga : (semua jumlah bahan ini boleh sesuai selera yaaa…)

Bahan :
20 butir cabai rawit
 2 siung bawang putih
5 butir bawang merah
4 butir kemiri
1 sdm andaliman
30 cm batang rias
1 butir tomat ukuran sedang

Cara Memasak :
1.       Iris bawang merah dan putih..goreng sampai coklat. Tiriskan
2.       Goreng kemiri, tiriskan
3.       Goreng cabai, tiriskan
4.       Goreng andaliman, tiriskan
5.       Iris semua batang rias dengan ketebalan kira-kira 0,5 cm , goreng, tiriskan
6.       Potong tomat, goreng, tiriskan (bisa juga digoreng utuh tanpa diiris)
7.       Haluskan semua bahan yang telah digoreng dengan ditambah garam menggunakan cobek. Saya sudah pernah mencoba menghaluskan mengguankan blender, tapi penampakan akhirnya malah jadi seperti bubur :D.


Note : Memang disarankan untuk tidak menggorengnya bersama-sama.

------------------------------------------------------------------

Ingin Punya Penghasilan dari Rumah??
Yuk join bisnis Oriflame - dBCN
Sudah terbukti banyak yang sukses di sini

Selasa, 12 Maret 2013

Apa yang Kau Cari, Richard?

gambar pinjem dari SINI





Saya heran dengan kalimat yang saya gunakan untuk judul tulisan ini.  Heran karena kalimat itu adalah judul sebuah artikel yang saya baca duluuuuu banget. Dulu ketika masih SD, ketika minat baca sudah mulai bertunas tapi minim bacaan anak-anak. Jadilah saya baca majalah yang bukan untuk anak-anak. Lupa apa nama majalahnya. Mungkin kalau sekarang sebangsa Femina atau Cosmo gitu kalik.. 


Isi artikelnya tentang Richard Burton (saat itu belum meninggal) yang selepas dari Elizabeth Taylor tak juga menghentikan petualangan cintanya. (Buseeet yak…saya yang kala itu masih imut-imut udah baca soal petualangan cinta ala Richard Burton. Itulah salah satu sebab keinginan saya punya taman bacaan untuk anak-anak)


Tapi tulisan ini nggak akan bahas soal Richard atau Liz Taylor yak..  Saya pakai kalimat ini karena SUKAAA...suka maknanya. Apa yang kau cari? Iyaii, ini pertanyaan yang simpel ketika kasusnya semacam : HP-keselip-entah-di-mana-lalu-kita-kelabakan-mencarinya. 

Senin, 18 Februari 2013

Sampai Memutih Rambutku*


kira2 begini nggak ya saya nanti? hihihi. gambar pinjem dari SINI



"Tua itu pasti. Dewasa itu pilihan". 


Sigh..kalau soal usia, kenapa sih simpul-simpul otak saya selalu terkait pada kalimat itu. Kalimat yang jelas nggak orisinil ide saya. Tapiiii…. Tapi tagline sebuah iklan rokok. Padahal, saya enggak suka rokok, bahkan cenderung rada anti. Tapi belum sampai jadi aktivis anti rokok sih :D. Kepala saya sangat sensitif pada asap rokok. Biasanya, nggak pake lama, langsung pening begitu menjadi perokok pasif. Makanya, saya bête kalau ada orang merokok di tempat-tempat umum, lalu orang itu  enggak sensitif ketika ada orang lain yang tampak terganggu tapi sungkan ngomong.

Eh lha, malah ngomongin rokok :D

Padahal, aslinya mau ngomongin ini :

Beberapa minggu lalu saya diundang seorang tetangga merayakan usia ke-51. Sudah tua? Belum terlalu tua? Atau masih muda? Relatif yaaa… Buat Ale, lelaki kecil saya yang Juni depan baru mau tiga tahun, tetangga saya jelas sudah opung-opung (kakek/nenek dalam bahasa Batak). Tapi  kalau si tetangga ini ketemu dengan orang tertua sedunia (yang umurnya sudah lebih dari seabad), mungkin dia akan mendapat perkataan bijak : “engkau masih muda, Nak”.

Kalau buat saya, umur 51 tahun sudah cukup tua, tapi belum terlalu tua. Dulu bapak saya meninggal usia 55 tahun (ah di usia 55 tahun sudah dipanggil Tuhan.. itu umur yang masih “muda” untuk meninggal). Mungkin kaitan dengan usia bapak itu yang bikin saya merasa, “sampai usia 51 itu sudah harus disyukuri”. Lha itu di jalan atau di pelukan narkoba, banyak anak-anak yang masih muda  sudah menyetor nyawa.

Ketika si opung meniup lilin ke-51-nya, saya turut bersyukur. Berterima kasih diundang ke acaranya, berdoa agar  si opung makin bertambah2 kebijaksanaannya, juga berdoa agar saya juga bisa sampai ke usia itu.

Eh, seperti apa ya penampakan saya di usia 51? Andaikan ada teman yang punya program komputer yang bisa memperkirakan perubahan wajah seiring usia, mau deh saya dikado itu. Apa ya nama programnya? Saya pernah baca di sebuah artikel online, tapi lupa :D.

Kalau di 32 yang tepat di hari saya menulis ini sih, saya masih tampak seperti usia awal 20-an.  Wkwkwkw … (nada-nadanya pada mau lempar sandal nih :D). Eh, kenapa sih banyak orang bangga sekali kalau tampak lebih muda? Bahkan sebagian orang mengerahkan energi dan biaya untuk menahan laju ketuaan. Keinginan yang  disambut produsen aneka barang dengan menjual barang yang (katanya) bisa mengawetkan kemudaan.

Jadi inget komentar salah seorang teman ketika saya membuat status facebook tentang ultah si opung. Saya lupa kalimat persisnya (kalau mau sih bisa menelusuri time line saya, tapi itu makan waktu deh :D). Intinya, dia nggak suka membayangkan menjadi tua. Karena masa itu berarti pesona kemudaannya sudah memudar.

Saya bersyukur karena hari ini, saya tak risau meski umur kembali melewati satu penanda. Sel-sel saya tak lagi sehebat usia belasan dan awal 20-an (membayangkan naik gunung seperti dulu lagi..sepertinya itu salah satu extreme-dream di masa sekarang). Eh ya, sudah ada lho uban di kepala saya. Walau baru sehelai dua helai dan masih mudah tersembunyi oleh rerimbun rambut yang hitam.

Seperti apa saya di atas usia 50? Seperti apakah waktu menggurat tanda-tanda pada tubuh saya yang fana? Pertanyaan lebih mendasar, apakah saya akan sampai pada usia itu? 

Saya tak tahu. Saya tak tahu. Tapi saya bersukacita menyambut masa-masa itu.

*Judul tulisan ini meminjam judul lagu karya Franky S Sihombing. Salah satu lagu favorit saya yang videonya bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=EDj2TvrCCHQ





Kamis, 14 Februari 2013

Botot Itu, Kepelitan Itu..




gambar pinjam dari SINI

Yak, selayaknya tumpukan kertas dan aneka barang yang tak terpakai itu disebut sampah. Barang-barang yang menumpuk setelah saya dan suami membereskan “gudang” belakang. Gudang dengan tanda kutip karena hanyalah ruangan terbuka di sebelah kamar mandi yang kami pakai untuk menaruh berbagai perkakas, juga dus-dus berisi aneka kertas/buku/majalah. Karena letaknya di belakang, tempat ini tak pernah bebas dari tikus. Sudah kami coba aneka cara, tikus tetap ada. Tapi masih bersyukur, karena tikus hanya beroperasi di bagian belakang. Mereka tidak memperluas area operasi  ke dalam rumah.

Sampah itu, cukup lama menumpuk. Nggak seberapa banyak sih. Tapi waktu itu saya berpikir, kayaknya bisa juga nih dijual ke tukang botot (istilah lokal untuk menyebut barang-barang bekas tak terpakai). Ada kertas-kertas, majalah, koran, patahan gagang pintu besi, tripod kamera yang rusak, box plastik tempat kompor gas mini dan lain-lain. 

Lumayan, kalau laku 10-20 ribu, bisa untuk tambah belanja atau jajan Ale (alasan khas emak-emak). Toh, setiap hari, selalu ada tukang botot yang lewat depan rumah. Nggak cuma satu. Sehari bisa tiga sampai empat tukang botot lewat mengendarai sepeda motor mereka. Tapi entah mengapa, tiap kali ada tukang botot lewat, saya nggak juga  beraksi mengeluarkan tumpukan barang itu.

Sampai kemudian terpikir, kenapa sih enggak dikasih aja ke B (inisial nama). B adalah seorang tetangga kami. Seorang pemuda lajang, mungkin hanya beberapa tahun lebih muda dari saya.  Kata mamaknya yang seorang janda, B menderita suatu penyakit. Entah penyakit apa, yang jelas B tidak tampak senormal pemuda-pemuda seusianya. Mungkin gangguan psikis tingkat menengah yang membuat B harus rutin berobat ke sebuah rumah sakit jiwa di Medan. Suatu hari, emaknya pernah bilang ke saya, kalau bisa meminta dia lebih suka B meninggal lebih dulu daripada dia. Alasannya, “kalau aku mati lebih dulu, siapa yang mau merawat B?”. Deeeg, bagaimana kalian menilai alasan ini? *saat itu, saya trenyuh bener mendengar perkataan si emak. Antara, “hah kok begitu sih Pung”..(saya memanggilnya dengan sebutan opung) dengan “inikah kasih seorang ibu?

B suka minta rokok pada suami saya yang sampai saat ini belum bisa berhenti merokok :D. Tapi B tidak menakutkan. Dia sopan dan bersih. Dia suka menyapa lebih dulu. Dia juga mau berusaha bekerja. Pernah dia berjualan rokok dan aqua di persimpangan. Namun, belakangan sepertinya enggak lagi. Yang masih sering saya lihat, dia masih suka mencari botot untuk dikumpulkan kemudian dijual.

Kenapa sih, bototnya nggak dikasih B saja? Buat dia pasti sangat berharga.
Enggak ah. Sayang, 10-20 ribu lumayan. Bisa buat jajan Ale (alasan khas emak-emak).
Idiiih, 10 ribu emang bernilai. Tapi kamu nggak akan kekurangan dengan memberikan  botot itu pada B.
Ah enggak ah… mau kujual sendiri.

Hidiiih, heran deh, urusan botot aja bisa bikin saya perang batin :D. Dan saya sebel sama ego saya yang berusaha mempertahankan botot itu. Kenapa sih, ribet amat hanya untuk memberi botot yang kalau dijual saya taksir nilainya saya sebut di atas? Peliiit liit liiit. Padahal, kalau misal langsung kasih uang Rp 10 ribu rasanya justru nggak akan seperti ini… heran deeeh.

Tapi akhirnya debat itu dimenangkan oleh alter ego saya. Yuhuuuuu…horeee menaaang. Jadi, oke, saya memutuskan untuk memberikan botot itu ke B. Tapi hari demi hari, tiap si B lewat, saya kok ya enggak tergerak untuk memanggilnya. Hingga pagi kemarin, dia lewat dan dari teras saya memanggilnya, “Hai B, ambil botot di belakang yaaa…”

Ahhhh… pagi itu, rasanya ada beban yang terlepas.

Sabtu, 09 Februari 2013

Tersangkanya adalah.... MATA



Sudah seminggu belakangan, saya sering sakit kepala. Nyaris setiap hari sakit kepala, plus tegang di bagian tengkuk, bahkan kadang sampai pundak. Pernah dengar, entah bener enggaknya, tegang di tengkuk dan pundak adalah salah satu gejala kolesterol tinggi. Hwedeeeh, masa sih, kolesterol tinggi, secara saya buka penggemar makanan yang berlemak-lemak. Bahkan, saya merasa kekurangan nafsu makan.. nah lho..

Anehnya, sakit kepalanya biasa muncul menjelang sore hari. Berhubung sebelumnya saya hanya sekali-sekali sakit kepala, sakit yang hampir tiap hari begini rasanya sungguh tak nyaman. Mau ngerjain hal-hal yang nggak harus pakai mikir (misal nyuci piring atau nyapu lantai) saja nggak enak. Apalagi ngerjain urusan yang kudu pakai mikir (misal cek kerjaan oriflame atau nulis cerita). Juga gampang emosi. Padahal, namanya punya anak batita, kadang si kecil mau ini itu nggak paham kondisi bundanya yang lagi pening.

Selama sakit kepala rutin ini saya hanya mengonsumsi paracetamol 500 mg 1 butir, yakni ketika sakit kepala rasanya tak tertahankan. (Duuh, kalau sakit begini saja sudah sambat (ngeluh) nggak karu-karuan, gimana mereka yang sedang berjuang dengan sakit kanker, lupus, AIDS, TBC –dan penyakit2 berat lainnya--, kiranya Tuhan memberi mereka kekuatan).  Itu saja obat yang saya telan, selebihnya saya pilih tidur. Bersyukur, karena nggak tidur siang, si Ale juga jadi cepet tidur malam. Jam 8 malam bisa sudah pules dan emaknya ikutan tidur.

Memang, bangun pagi kepala sudah ringan. Tapi, jadi buanyaak kerjaan yang tertunda. Sebab, biasanya saya pakai waktu malam hari setelah Ale tidur untuk buka laptop. Entah itu cek email, bales email, sharing artikel/motivasi untuk downline2, cek AR, ikutan training online dll). Gara-gara mumet, semuanya jadi kepending. (Dooo, maaaf yaa acucitkuuuh).

Semula saya kira, sakit kepala dan tegang tengkuk itu karena hormon pre-mestruasi. Tapi ternyata, setelah mens-nya lewat, sakit kepalanya tetap. Jadi, mulai deh saya curiga sama tekanan darah dan komposisi darah (apalagi pasca-mens). Saya memang punya riwayat tekanan darah rendah dan kurang darah. Riwayat tekanan darahnya emang nggak rendah-rendah amat sih, tapi pernah sampai 100/80. Terus, dari HB darah normal 12-14, saya pernah 10. Saya tahu itu saat hendak donor darah dan gara-gara HB rendah saya ditolak. Mungkin itu sekitar tiga atau empat tahun lalu. Sejak saat itu, saya yang semula sempat rutin donor jadi nggak pernah lagi berbagi darah.

Tapi saya nggak mau menerka-nerka lalu langsung minum obat. Nggak mau pula membiarkan sakit kepala ini berlarut-larut karena memang terasa sangat mengganggu. Jadi, kemarin sore saya putuskan ke dokter. Tekanan darah 110/80 (not so bad). Sayangnya nggak ada alat cek HB darah. Tapi dari pemeriksaan fisiologis (kulit dan mata nggak pucat, tangan kaki nggak dingin), dokter bilang kemungkinan Hb saya normal. Ataupun kalau kurang, nggak terlalu jauh dari batas normal.

Pas mau lihat mata saya, saya kudu lepas kacamata dong. Dan dari situlah dokter bertanya-tanya tentang lensa saya. Yeaiii, lensa kacamata memang tak ada masa kadaluwarsa. Tapi siapa tahu minus saya sudah bertambah dan perlu ganti lensa. Karena mata yang bekerja terlalu keras, bisa bikin pusing juga loh. Saya ingat-ingat, sejak pertama kali pakai kacamata, sekitar lima tahun lalu, saya belum pernah ganti lensa. Kalau frame sih sudah beberapa kali ganti. Lima tahun? Gubrak, dokternya rada kaget hehehe. Lha tapi sejauh ini saya masih merasa nyaman-nyaman saja dengan lensa ini. Kalau buat melihat masih jelas-jelas saja. Makanya, sejak mulai pusing, saya nggak kepikiran soal kacamata.

Jadi sore itu saya nggak dikasih macam-macam obat sama dokter. Hanya dikasih vitamin dan obat pereda rasa nyeri. Saran : segera cek mata. Kalau dari pemeriksaan mata menunjukkan bukan itu penyebabnya, baru nanti telusuri kemungkinan lain.

Jadi, sejauh ini, mata jadi tersangka. Untuk mengetahui bener enggaknya, ya kudu tunggu periksa. Dan itu akan saya segerakan. Sakit kepala itu nggak enak… ngapain nunggu lama-lama untuk tahu sebabnya.